Sarang Burung Walet: Komoditas yang Diam-Diam Dikuasai Indonesia
Series “Mengenal Industri Sarang Burung Walet bersama RLCO” — Bagian 1 dari 4 Indonesia menguasai lebih dari separuh pasar ekspor sarang burung walet dunia, sementara industri hilir berperan penting dalam memastikan produk memenuhi standar internasional dan mempertahankan daya saing global.

Di antara komoditas ekspor andalan Indonesia seperti kelapa sawit, batu bara, dan nikel, terdapat satu komoditas yang jarang jadi sorotan tetapi justru paling didominasi Indonesia yaitu sarang burung walet. Secara pangsa pasar global, dominasi Indonesia di komoditas ini bahkan lebih besar daripada banyak komoditas yang jauh lebih populer.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sepanjang 2025 nilai ekspor sarang burung walet Indonesia mencapai US$551,56 juta atau setara 58,31% dari total nilai ekspor dunia. Malaysia, pesaing terdekat, hanya menguasai 22,77%. Tiongkok, yang juga memproduksi sarang walet domestik, berada di urutan ketiga dengan 5,17%, jauh di bawah Indonesia yang justru memasok 80,15% kebutuhan impor mereka. Bahkan dari total nilai ekspor itu, sekitar US$380,20 juta atau hampir 69% mengalir khusus ke Tiongkok. Tren ekspor lima tahun terakhir (2021–2025) pun konsisten tumbuh positif 2,66%.
Untuk apa dan di mana sarang walet dipakai? Permintaan terbesar datang dari Tiongkok, dan ini bukan kebetulan. Dalam Traditional Chinese Medicine, sarang walet telah dikenal berabad-abad sebagai tonik premium setara ginseng dan kordiseps yang dipercaya menunjang imunitas, kesehatan kulit, dan vitalitas. Tradisi ini menciptakan permintaan kultural yang stabil lintas generasi.
Belakangan, konsumsinya meluas ke Amerika Serikat dan kalangan konsumen muda di Indonesia yang mengusung gaya hidup wellness. Yang menarik, beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand kini bukan sekadar konsumen, mereka pun tumbuh menjadi produsen yang serius, sehingga peta industri ini sebenarnya adalah kompetisi pasokan antarprodusen, bukan sekadar perebutan pasar.
Lalu kenapa Indonesia bisa begitu dominan? Karena tidak semua negara bisa memproduksi sarang walet dengan baik. Walet bukan unggas yang bisa diternakkan industri di kandang seperti ayam petelur. Spesies Aerodramus fuciphagus membangun sarang dari air liurnya sendiri yang mengeras menjadi serat halus, dan hanya berkembang optimal pada kombinasi yang sangat spesifik yaitu iklim tropis lembap yang stabil, pakan serangga melimpah, serta kondisi yang tepat di dalam rumah walet. Indonesia memenuhi semua syarat itu sekaligus seperti iklim konsisten, garis pantai panjang, dan tradisi peternakan walet yang berakar berabad-abad.
Sebarannya pun luas dan terbukti produktif. Kalimantan Barat menyumbang sekitar 78% produksi nasional dengan ribuan rumah walet, Sumatera Utara (dengan Medan dan Banda Aceh sebagai sentra lama) mencatat lebih dari 300 ton dengan nilai sekitar Rp3,7 triliun pada 2021, sementara Kalimantan Selatan mampu memproduksi ratusan ton per tahun untuk ekspor. Sentra-sentra ini membentang dari Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi, sebuah keunggulan geografis yang sulit ditandingi negara lain.
Tapi pasokan yang dominan tidak otomatis berarti penguasaan pasar. Sarang yang baru dipanen masih basah, bercampur bulu dan cangkang telur, jauh dari siap konsumsi. Ia harus dibersihkan, disortir, distandarisasi, dan disertifikasi sebelum bisa diekspor. Di titik inilah industri Indonesia terbagi menjadi dua lapis yang saling bergantung yaitu peternak walet di hulu, yang menghasilkan bahan baku dari ribuan rumah walet, dan perusahaan pengolah di hilir, yang mengubahnya menjadi produk berstandar ekspor.
Lapis hilir inilah yang sebenarnya menentukan apakah Indonesia bisa mempertahankan posisinya. Tugas mereka bukan sekadar membersihkan sarang. Mereka memastikan setiap produk memenuhi standar keterlacakan dan keamanan pangan. Mereka juga mengurus registrasi yang berbeda untuk tiap negara tujuan. Tanpa lapisan ini, sebagus apa pun bahan baku dari rumah walet, produk tidak akan pernah lolos ke pasar premium.
Salah satu pemain pengolah yang akan kita ikuti lebih dekat dalam seri ini adalah PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) atau Realco, perusahaan asal Bojonegoro, Jawa Timur, yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada akhir 2025. Dari kunjungan langsung ke fasilitasnya, satu hal terlihat jelas, di sinilah bahan baku mentah benar-benar berubah menjadi produk berstandar dunia.
Di meja pembersihan, pekerja menyortir dan mencabut bulu halus dari sela-sela serat sarang satu per satu dengan pinset, pekerjaan yang tampak sederhana, tetapi nyatanya menuntut ketelitian dan kesabaran tinggi. Namun tahap itu hanyalah satu mata rantai. Sarang basah hasil panen lebih dulu disortir dan dicuci, baru kemudian masuk ke proses pembersihan; hasilnya melewati pemeriksaan mutu (QC), lalu pengeringan, sterilisasi dengan mesin, dan satu putaran QC lagi, sebelum akhirnya dikemas sesuai standar dan registrasi negara tujuan ekspor.
Di entitas usaha lain Perseroan, PT Realfood Winta Asia, sebagian diolah lebih jauh menjadi produk konsumen, mulai dari minuman kesehatan siap minum hingga jelly siap santap bermerek Realfood. Rangkaian inilah yang membuat RLCO menjadi salah satu jendela paling jelas untuk memahami industri ini dari dalam, dari hubungan dengan peternak, proses pengolahan, sertifikasi internasional, hingga pengembangan brand untuk pasar global maupun domestik.
Di bagian berikutnya, kita mulai dari pertanyaan yang paling sering muncul: kenapa dua sarang yang terlihat sama persis bisa berbeda harga puluhan persen per kilogram, dan apa yang membuat satu sarang lebih bernilai dari yang lain?
Selanjutnya — Bagian 2: “Bagaimana Kualitas Sarang Burung Walet Ditentukan? Studi Kasus Pabrik RLCO”
Tentang series ini: Selama 4 minggu ke depan, kami mengajak Anda mengenal salah satu komoditas paling istimewa dari Indonesia lewat lensa pemain hilir yang setiap hari berurusan dengan grading, ekspor, dan standar internasional.
SUMBER
- Data ekspor & pangsa pasar global: “Kemendag Pada China–Indonesia Bird’s Nest Trade Summit Forum”, Ditjen PEN, Kementerian Perdagangan RI, 13 April 2026 (ditjenpen.kemendag.go.id).
- Sebaran sentra walet Indonesia (Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan): Bisnis.com; Trubus.id.
- Industri & produksi walet Vietnam: VietnamNews; Vietnam.vn.
- Profil Yến sào Khánh Hòa (BUMN walet Vietnam): yensaokhanhhoa.com.vn; Vietnam.vn.